Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Mari Belajar Membuat Password Yang Aman

Password account Anda dapat tercipta dari kata-kata apa saja. Baik itu tanggal lahir, tempat lahir, bahkan sampai nama hewan peliharaan Anda. Namun, sadarkah Anda apabila password yang Anda buat menggunakan informasi pribadi tersebut dapat membahayakan data Anda?
Saat Anda membuat suatu account, biasanya Anda akan diminta mengisi sebuah field yang dapat membantu Anda mengingat password (bila lupa).Namun, tools yang dapat membantu Anda tersebut dapat menjadi penghancur juga.
Misalkan Anda memiliki sebuah account Facebook. Bayangkan apabila ada orang iseng atau orang jahat yang ingin hack account Anda. Orang tersebut tinggal melihat hint yang ada, kemudian tinggal mencari informasi untuk membobol account Anda. Mudah saja, orang tersebut tinggal melihat informasi yang ada di account Anda (biasanya informasi paling rahasia sekali pun dibagi di profile). Atau, misalnya, password Anda merupakan nama hewan peliharaan Anda. Orang tersebut tinggal menanyakan nama hewan peliharaan Anda dengan cara melakukan private message atau meninggalkan pertanyaan di Wall Anda. Orang tersebut tinggal menyamar menjadi sesama penyuka hewan dan dengan sedikit berbincang, pasti Anda akan tertipu untuk memberikan rahasia Anda tersebut.



Untuk membuat sebuah password, terdapat beberapa tips yang sangat manjur. Mari kita simak beberapa tips tersebut.

1. Usahakan panjang karakter password Anda sebanyak 12 karakter. Sampai saat ini, komputer cukup sulit untuk “menebal” password dengan karakter sepanjang itu. Komputer hanya butuh waktu beberapa jam untuk memecahkan password dengan panjang karakter kurang dari 12.
2. Lupakan menggunakan informasi pribadi Anda, seperti nama ibu, nama hewan peliharaan, tanggal lahir, dan sebagainya. Informasi pribadi dapat ditemukan dan dicari dengan mudah.
3. Kombinasikan karakter dalam password Anda menggunakan huruf, angka dan simbol. Contoh simbol : !@#$%^
4. Jangan malas untuk mengganti password Anda secara berkala.
5. Kombinasikan tips no 1 dan no 3. Dengan menggabungkan sebuah kata yang panjang yang menggunakan huruf, angka, dan simbol akan sangat sulit untuk ditebak. Contohnya : ch!p0nl1n3(chip)

Trik Salin Isi iPod ke Komputer Tanpa Bantuan iTunes

Sadarkah Anda bahwa iTunes hanya berjalan satu arah? Artinya, Anda bisa memindahkan semua file musik dalam komputer, via iTunes ke iPod, tapi Anda tidak bisa mentransfer file musik dari iPod ke komputer. Dengan alasan utama untuk menghindari pembajakan musik, Anda tidak bisa memindahkan musik dari iPod ke komputer lain. Ini masuk akal, meski mungkin menyebalkan.

Bagaimana jika komputer Anda rusak atau akan diganti dengan yang baru, dan Anda ingin file musik Anda tetap bersama Anda? Anda memang punya iPod yang menampung semua musik kesayangan Anda. Tapi bagaimana cara untuk menyalin mereka ke komputer yang baru? Nah, Anda butuh aplikasi khusus untuk mengatasi problem tersebut.



Yang akan kita gunakan dalam percobaan kali ini adalah Music Rescue. Para pengguna Windows bisa mengunduhnya dari http://www.kennettnet.co.uk/musicrescue/files/musicrescuesetup.exe, sedangkan para pengguna Mac OS bisa mengunduhnya dari http://www.kennettnet.co.uk/musibrescue/files/MusicRescue.dmg. Seperti apa kinerjanya? PCplus akan menguji versi trial-nya yang bisa diunduh secara gratis. Sebagai informasi, PCplus menggunakan komputer berbasis Windows untuk menjajal aplikasi ini. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Instal Music Rescue ke dalam PC atau notebook Anda.

2. Colok iPod ke PC atau notebook yang tidak memiliki aplikasi iTunes. Ingat, ini harus dilakukan sebelum Anda menjalankan program.

3. Jalankan Music Rescue. Secara otomatis, ia akan mengenali iPod yang menempel pada komputer, membaca playlist yang tersimpan di sana, lalu memindahkannya ke playlist Music Rescue yang tampilannya mirip dengan playlist iTunes. Asyiknya, ia juga berperan sebagai pemutar musik. Anda bisa memutar lagu yang ada di playlist dengan mengklik ganda file musik yang ingin didengarkan.

4. Music Rescue bisa menyalin beberapa atau bahkan semua lagu yang ada pada playlist iPod ke komputer. Untuk memilih beberapa lagu saja untuk disalin, Anda bisa menghilangkan semua tanda centang di playlist, lalu masuk ke menu [Rules] di sisi kiri atas layar aplikasi. Setelah itu, pilih [Unqueue All]. Setelah semua kosong, centang secara manual file mana saja yang ingin Anda transfer ke komputer.

5. Jika ingin cara yang lebih praktis untuk memilih lagu yang akan dipindahkan, klik opsi [Quick Rule] di menu [Rules], lalu pilih file mana saja yang ingin disalin atau tak ingin disalin. Kriterianya bisa ditentukan berdasarkan Album, Artist, Bit Rate, Genre, atau lainnya. Setelah beres, klik [Apply].

6. Untuk mulai menyalin lagu, tekan tombol [Choose] di sisi kiri bawah layar. Silakan browsing dan klik folder mana yang ingin dijadikan lokasi menyimpan file MP3 tersebut. Setelah itu, klik opsi [Choose] yang ada di boks kecil, lalu klik tombol [Copy] di sisi kanan bawah playlist (baca pesan di atasnya, “Don’t steal music”).

Aplikasi Lain yang Bisa Dijajal
Selain Music Rescue, masih banyak aplikasi lain yang berguna memindahkan file musik di iPod ke komputer yang tidak memiliki iTunes. Ada yang kompatibel dengan Mac OS maupun Windows, ada pula yang bisa dijalankan di Windows saja. Inilah beberapa di antaranya:

iPodRip
Website: http://www.thelittleappfactory.com/application.php?app=iPodRip
OS: Mac OS X 10.2 ke atas, XP, dan 2000

iPod Music Liberator
Website: http://www.zeleksoftware.com/redirect/download/liberator/exe.htm
OS: Mac OS X, XP, 2000, NT, dan 98

iPod Access
Website: http://www.ipodaccess.com/ipodaccess/IPODACCESS_SETUP.EXE
OS: Mac OS X 10.1 ke atas, XP, 2000, dan Vista

CopyTrans
Website: http://www.copytrans.net/
OS: XP dan Vista

Xplay
Website: http://download.mediafour.com/xplay
OS: XP, 2000, ME, dan 98SE (PCplus)

Deteksi Virus PC dari Flash Disk

Ada tidaknya virus pada PC bisa dideteksi dengan aplikasi virus portabel yang ada di flash disk (UFD). Berguna untuk mengamankan UFD dari virus dan membasmi virus.

Komputer bisa terinfeksi virus lewat USB flash disk (UFD). Tapi, dari mana virus di UFD itu berasal. Dari komputer yang sudah terinfeksi, tentunya. Contohnya komputer-komputer di warnet-warnet. Jadi, cegah juga masuknya virus ke dalam UFD. Caranya adalah dengan memindai komputer yang hendak dicoloki UFD.
Kita bisa menjalankan antivirus yang portable—antivirus yang disimpan di UFD, tak perlu diinstal di komputer untuk bisa berjalan. Dengan antivirus itu, komputer akan dipindai. Hmm... memang, tidak butuh waktu yang sedikit, apalgi kalau komputer memiliki file yang sangat banyak. Tetapi, memang seperti itulah kenyataan dalam dunia TI—kenyamanan berbanding terbalik dengan keamanan.
Yang kita butuhkan adalah antivirus portable, seperti AntivirX, ClamWin yang bisa diunduh dari www.clamwin.com. Kita juga perlu membuat sebuah file yang jalan otomatis ketika UFD dicolok. File itu akan menjalankan antivirus yang ada di UFD. Ini mirip dengan file jalan otomatis yang sering terdapat pada CD instalasi program.
Buka Notepad dan ketikkan baris-baris perintah berikut ini.



[autorun]
Open=antivirus.exe
Action=Open Anti Virus Portable!
Icon=icon.ico
Label=Your_Name
Kalau sudah, simpan dengan nama autorun.inf. Agar tidak jadi file TXT, ubah Save as Type menjadi [All Files].
Berikut ini adalah penjelasan ringkas mengenai perintah-perintah dalam file autorun.inf tadi.
Perintah “Open” adalah perintah untuk membuka antivirus tersebut. Perintah Open diikuti dengan file yang menjalankan antivirus. Jadi, ganti “antivirus.exe” di perintah itu dengan nama file antivirus yang digunakan. Misalnya, nama file antivirusnya “antivirx.exe” maka perintah tersebut menjadi “Open=clamwin.exe”. Nah, kalau file itu berada di dalam folder lain—misalnya folder AntivirX 1.0, perintah itu berubah menjadi “Open=AntivirX 1.0-clamwin.exe”.
Perintah “Action”berguna untuk menampilkan kalimat pada kotak dialog ketika antivirus akan dijalankan. Kalimat yang mengikuti perintah ini boleh diganti dengan kata-kata lain.
Perintah “Icon” berfungsi untuk mengganti ikon standar UFD yang tampil pada Windows Explorer. Enggak ada fungsi khusus yang berkaitan dengan antivirus, ikon itu cuma mempercantik saja. Tentu saja file ikon harus ada juga di UFD. Nama file yang pada contoh “icon.ico” diganti sesuai dengan nama file ikon yang digunakan.
Terakhir, perintah “Label” berfungsi ntuk memberikan nama dari pada UFD. Sama seperti perintah “Icon”, perintah ini juga enggak ada hubungannya dengan usaha pencegahan masuknya virus.
Atribut file autorun.inf itu baiknya dibuat menjadi “Read-Only”--cuma bisa dibaca, tidak bisa diubah-ubah. Kalau tidak bisa diubah, berarti virus tidak akan bisa memodifikasi file tersebut. Caranya begini, klik kanan file itu, lalu klik [Properties]. Pada bagian Attributes, beri tanda centang pada [Read-Only].
Berikut ini adalah penggunaan UFD untuk mendeteksi virus yang ada pada komputer.
1. Masukkan UFD namun jangan membuka flash disk pada komputer. UFD belum dibuka, virus dalam komputer tidak akan masuk ke dalam flash disk atau sebaliknya.
2. Jalankan fungsi jalan otomatis dengan mengklik tombol [OK] pada kotak dialog yang muncul. Antivirus portabel yang ada pada UFD akan berjalan.
3. Scan virus pada komputer, khususnya pada C:-Windows-System32.
4. Kalau ada antivirus melaporkan adanya virus, jangan ragu, komputer itu memang bervirus.
5. Selanjutnya silakan bersihkan komputer itu. Kalau tidak, yah cabut saja buru-buru UFD yang dicolok.

Caption:
1. File autorun.inf yang akan menjalankan antivirus secara otomatis berisi baris-baris perintah seperti tampak pada gambar.
2. Ketika dijalankan, muncul sebuah pilihan dengan teks seperti yang dimasukkan pada baris perintah “Action”. Pilih itu dan klik [OK].(pcplus)

Tips Agar Dokumen Tak Hilang

Ada beberapa tips agar dokumen tidak hilang. Tidak perlu hal-hal yang kelewat teknis. Cukup ubah kebiasaan berkomputer saja.



Di Windows, ada folder bernama “My Documents”. Folder itu sudah dari sananya ada di Windows, seolah Microsoft membuatkan sebuah tempat bagi pengguna Windows untuk menyimpan dokumen-dokumen.



Standarnya, folder itu berada di dalam satu drive dengan sistem operasi—bukan sesuatu yang aman. Kenapa enggak aman? Karena ketika sistem operasi terganggu, bisa jadi dokumen-dokumen yang ada di folder itu juga turut terganggu, bahkan tidak bisa diakses sama sekali.

Kalau dokumen sudah tidak bisa diakses kembali, orang bisa panik, kemudian mengangkat telepon, menghubungi PCplus, bertanya bagaimana memperoleh dokumen itu kembali. Ya, itulah pertanyaan yang beberapa hari terakhir ini PCplus terima melalui telepon.

Makanya, kali ini PCplus berikan tutorial untuk mencegah hilangnya data. Tujuannya biar seperti kata pepatah “sedia paying sebelum hujan”. Tapi, tutorial ini tidak menjamin data seratus persen aman. Mengutip kata pelawak Asmuni (almarhum), “Tidak ada hil yang mustahal.”

Tapi, paling tidak, memperkecil risiko kehilangan data. Ayo deh, mulai dengan tips nomor satu.





Jangan Simpan Data di Drive Sistem Operasi



Masalah ini sudah disinggung sedikit di awal “cerita” tadi. Di mana posisi sistem operasi? Biasanya di C, bukan? Bisa juga di D, kalau komputer punya dua sistem operasi. Pokoknya, mau di mana pun sistem operasi, jangan simpan data di situ.



Ada saja masalah yang bisa menyerang sistem operasi, seperti virus dan file yang korup. Kadang-kadang (atau seringkali ya?) solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah itu adalah dengan menginstal ulang sistem operasi.

Solusinya, kalau punya dua hard disk, simpan data di hard disk yang berbeda dengan hard disk yang berisi sistem operasi. Kalau cuma punya satu hard disk, buatlah sebuah partisi khusus untuk menyimpan data.



Kalau masih merasa takut di hard disk biasa, belilah hard disk eksternal. Nah, pada beberapa hard disk eksternal, ada fitur untuk back-up data. Fitur itu berupa peranti lunak yang secara otomatis akan melakukan back-up terhadap data yang sudah ditentukan dan pada lokasi yang sudah ditentukan pula.





Jadwalkan Back-up



Penentuan lokasi penyimpanan yang berbeda dengan sistem operasi baru satu cara. Tapi ingat, hard disk pun bisa rusak. Makanya, selain disimpan di hard disk, simpan data di tempat lain, misalnya di keeping DVD. Tapi, keping DVD bisa tergores, jadi isinya tidak bisa dibaca?



Kalau satu back-up kurang, buat beberapa. Kalau keping-keping DVD dirasa tidak cukup, cari saja situs web penyimpanan online. Banyak kok situs web yang melayani penyimpanan data online, mulai dari yang gratis sampai yang mahal.



Salah satu situs web yang punya layanan penyimpanan gratis adalah IDrive (www.idrive.com). Situs web ini menyediakan ruang sebesar 2GB. IDrive juga menyediakan peranti lunak untuk mempermudah transfer file. Biar lebih jelas, kapan-kapan PCplus bahas situs web ini deh.





Hati-Hati Menyalin File Baru



Punya file yang mau disalin, misalnya dari USB flash disk (UFD) ke hard disk? Hati-hati. Bukan cuma virus yang perlu diperhatikan (kalau masalah virus sih pasti sudah jadi perhatian), tapi juga nama file.



Jangan sampai, file yang disalin dari UFD, juga media lain, “menimpa” file yang sudah ada di hard disk. Lain halnya kalau itu memang sudah disengaja. Tapi, kalau tidak disengaja, bisa menyebabkan file lain hilang.



Misalnya, ada file “rencana.doc” yang berisi rencana pembelian PC disalin dari UFD ke folder D:-Dokumen di hard disk. Padahal, di tempat itu sudah ada file bernama yang sama tapi isinya rencana pembelian sayur. Lah, kalau saja file dari UFD menimpa file di hard disk, berarti hilanglah rencana pembelian sayur. (Alex Pangestu alex@tabloidpcplus.com )





Pindahkan “My Documents”



Folder “My Documents” semestinya dipakai untuk menyimpan dokumen. Tapi, malah ada tips agar tidak menyimpan dokumen di situ. Pasalnya, folder itu terletak pada drive yang sama dengan drive sistem operasi. Risikonya tinggi menyimpan file di drive sistem operasi. Ketika sistem operasi bermasalah dan harus diinstal ulang, file bisa hilang.(pcplus)



Salah satu solusi adalah dengan menyimpan file di drive lain. Mubazir dong “My Documents”nya? Yah, begitulah. Tapi, sebetulnya kita bisa merujuk folder lain sebagai folder “My Documents”. Nanti, posisi folder itu tetap sama di Windows Explorer. Tapi sebetulnya, folder itu berada di drive yang lain. Caranya begini.

1. Buka Windows Explorer.

2. Klik kanan pada [My Documents] terus klik [Properties].

3. Klik [Move…].

4. Ketika muncul jendela untuk melakukan browse, cari folder yang berisi dokumen-dokumen.

5. Klik [OK].

6. Tutup jendela Properties.

7. Selesai.

Trik Optimasi E-mail Berformat HTML

Agar ukuran e-mail tak terlalu membengkak, Outlook 2007 telah menambahkan fitur untuk mengurangi ukuran e-mail secara otomatis. Tekniknya yaitu dengan menghapus beberapa tag informasi yang tak berpengaruh dalam pengaturan tampilan e-mail. Dengan teknik ini, Anda dapat mengirim e-mail berformat HTML dengan ukuran yang relatif kecil dan hemat bandwidth.




Untuk mengoptimasi e-mail berformat HTML, lakukan langkah ini.
1. Jalankan Microsoft Outlook melalui menu [Start] > [All Programs] > [Microsoft Office] > [Microsoft Office Outlook 2007].
2. Klik [Tools] > [Options...] di jendela utama Outlook 2007.
3. Sesaat kemudian kotak dialog “Options” akan terbuka. Klik tab [Mail Format] yang berada di kotak dialog ini.
4. Pada bagian HTML Format, beri tanda cek di depan opsi [Reduce the file size of message by removing formating information that is not necessary to display the e-mail message].
5. Tekan [OK] untuk menyimpan perubahan.(pcplus)

Cara Mudah Mem-back-up E-mail

Karena berbagai sebab, Anda perlu melakukan back-up e-mail. Salah satu alasan mem-back-up e-mail adalah ketika Anda ingin meng-install ulang Windows atau mengantisipasi komputer yang tiba-tiba mogok bekerja.

Untuk melakukan tindakan preventif, ikuti langkah berikut:
1. Buka Microsoft Outlook.
2. Klik menu [File], lalu klik [Import and Export...].
3. Pada kotak dialog Import and Export Wizard pilih [Export to a file] lalu klik [Next].
4. Pilih [Personal Folder File (.pst)], lalu klik [Next].
5. Pilih folder yang ingin Anda back-up. Jika Anda ingin mem-back-up seluruh folder, pilih Personal Folder dan tandai checkbox Include subfolders, lalu klik [Next].
6. Tentukan nama file dan folder tempat hasil back-up akan disimpan, lalu klik [Finish].
7. Jika Anda ingin agar file hasil back-up Anda aman atau e-mail yang akan Anda back-up merupakan e-mail penting, berikanlah password pada file tersebut. Jangan lupa untuk memilih opsi [Compressibe Encryption], lalu klik [OK].



Nah, jika suatu hari nanti Anda membutuhkan kembali e-mail-e-mail telah di-back-up ke Microsoft Outlook, Anda dapat mencoba langkah berikut:
1. Masuklah Microsoft Outlook.
2. Klik menu [File], lalu klik [Import and Export...].
3. Pada kotak dialog Import and Export Wizard pilih [Import from another program or file lalu klik [Next].
4. Pilih [Personal Folder File (.pst)], lalu klik [Next].
5. Tentukan nama file dan folder tempat file back-up Anda disimpan, lalu klik [Next].(pcplus)

Trik Overclock Prosesor Lawas

Kalau Anda baru belajar overclock, mulai saja dengan komputer yang sudah ada. Lebih baik lagi kalau Anda punya komputer yang sudah tidak terpakai. Sebagai contoh nih, PCplus sengaja menggunakan sistem sudah agak lama.


Komputer yang digunakan PCplus berprosesor Pentium-4 3GHz dengan pendinginan standar. Sebagai pendukung, motherboard Asus dengan chipset i875P, dua keping memori Kingston DDR400 512MB, VGA Radeon 9600Pro, serta power supply Enlight 420 watt digunakan.
Tanpa ba-bi-bu lagi, mari kita langsung terjun ke cara melakukan overclock pada prosesor.



Di motherboard Asus yang menggunakan AMI BIOS, pilihan untuk mengutak-atik kinerja sistem ada pada menu “Advanced”. Di bagian “Configure System Frequency/Voltage”, pilih opsi “AI Overclock Tuner”. Ubah pengaturannya dari “Standar” ke “Manual”.

2. Sebelum overclock prosesor, sebaiknya turunkan dulu frekuensi memori dari 400 MHz ke 266 MHz. Tujuannya untuk menghindari gagalnya overclock jika memori tersebut tidak sanggup bekerja di atas frekuensi 400MHz. Lalu, apa hubungan antara prosesor dengan memori? Pada sistem ini, setiap peningkatan frekuensi prosesor 1 MHz, frekuensi memori juga akan meningkat. Untuk itu, kita perlu membuat memori tetap ada di frekuensi yang pasti didukung memori yang dipakai.

3. Supaya bus AGP dan PCI tidak turut di-overclock, pastikan AGP dan PCI tetap bekerja pada frekuensi 66 dan 33MHz. Bila frekuensi AGP dan PCI meningkat, kerja komputer memang akan lebih baik pada sisi grafis dan media penyimpanan alias hard disk. Tetapi, sabar yah. Sekarang ini kita bahas dulu overclock untuk prosesor. Lagipula, overclock media penyimpanan dan VGA memiliki risiko yang besar.

4. Berhubung prosesor memiliki multiplier yang dikunci (tidak bisa dinaikkan), kinerja digenjot dengan menaikkan FSB atau CPU External Frequency. Kebetulan, prosesor Pentium-4 3GHz yang PCplus gunakan menggunakan standar 200MHz (quad pump FSB 800MHz). Coba naikkan angka tersebut ke atas sebesar 10 MHz (baca boks “Tips” untuk menentukan besarnya angka ini). Setelah itu, simpan opsi BIOS lalu restart komputer.

5. Pasa saat POST (Power On Self Test) yang muncul enggak lama setelah komputer nyala, Anda akan melihat kecepatan prosesor sudah bertambah. Pada gambar itu tampak kalau CPU External Frequency sudah dinaikkan dari 200 ke 210MHz. Dengan pengali (multiplier) prosesor x15, dari 3000MHz prosesor kini memiliki kecepatan 3160MHz (dibulatkan ke atas).

Biarkan komputer melanjutkan tugasnya sampai masuk ke dalam sistem operasi. Setelah itu, jalankan software yang biasa Anda gunakan untuk bekerja. Kalau komputer masih mampu menjalankan semua dengan sempurna, kembali ke BIOS dan naikkan lagi CPU External Frequency. Beri tambahan lagi sekitar 5 MHz sampai 10 MHz. Lakukan terus langkah ini sampai Anda PC Anda menjadi tidak stabil. Jika PC sudah ada tanda-tanda “ngaco”, kembalikan aturan BIOS ke pengaturan ketika kinerja PC masih mulus. Kalau masih penasaran, silahkan kembali naikkan CPU External Frequency, namun kini angkanya cukup 1 sampai 3 MHz saja.

6. PCplus dapat menaikkan kecepatan prosesornya dari 3000MHz menjadi 3300MHz dan 3375MHz. PCplus tidak melakukan overclock lebih lanjut karena sudah muncul tanda-tanda kalau sistem tidak stabil. Contohnya, aplikasi yang PCplus pakai untuk menguji selalu mengalami hang, gagal loading. Ketika berhasil jalan, eh hasil uji malah menunjukkan penurunan kinerja, bukannya kenaikan. Pokonya tidak sebanding dengan overclock yang sudah dilakukan. Selain itu, suhu prosesor di BIOS juga sudah menunjukkan posisi yang agak berbahaya. Di awal-awal suhu prosesor berada di kisaran 47 derajat Celcius, setelah overclock ini suhu mencapai 55 derajat Celcius.



TIPS: Bereksperimenlah

Berapa nilai kecepatan yang harus dimasukkan di BIOS untuk overclock? Tak ada jawaban yang pasti untuk ini. Orang yang ekstrem mungkin akan memasukkan angka yang bisa dibilang rada “gila”, misalnya menambah 100 dari angka yang sudah ada—kalau angka standar di BIOS 200, ia memasukkan 300. Tapi, ada pula orang yang main aman. Ia cuma menambah 10 dari angka yang sudah ada.

Nah, PCplus menganjurkan cara yang kedua saja. Tambahkan dulu 10 dari angka yang sudah ada. Kemudian, coba hasil overclock-nya. Apa komputer masih stabil? Kalau masih, tambahkan 5 lagi dari angka yang terakhir. Coba lagi. Masih stabil? Tambah lagi 5. Kalau sudah tidak stabil, turunkan 2 dan coba lagi. Kalau stabil, coba tambah 1. Kalau masih tak stabil turunkan lagi.

Intinya, cari-cari sendirilah angka yang paling pas untuk overclock PC Anda. Perlu diingat juga, kalau Anda berhasil menambah sampai 50 angka, belum tentu kawan Anda bisa sebesar itu. Kawan Anda bisa lebih atau bisa kurang. Setiap perangkat keras, meskipun merek dan tipenya sama, kemampuan overclock-nya berbeda.


PERINGATAN: Penulis (Iman (k1komputer@lycos.com)) dan PCplus tidak bertanggung jawab atas kerusakan sistem karena overclock yang dilakukan. Perlu diingat, kerusakan akibat overclocking akan menghilangkan garansi atas produk yang Anda beli dari toko atau distributor produk yang bersangkutan.(Pcplus)